Iklan

22 Feb 2021, Februari 22, 2021 WIB
Last Updated 2021-02-22T08:32:02Z
Nasional

Survei: Banyak Orang Anggap COVID-19 Konspirasi dan Rekayasa

JAKARTA - Survei yang dilakukan Parameter Politik Indonesia menemukan masih cukup banyak orang yang menganggap COVID-19 adalah konspirasi dan hasil rekayasa manusia. "Setelah hampir satu tahun COVID-19 masuk Indonesia, ternyata masih cukup banyak orang yang menganggap COVID-19 adalah konspirasi (20,3 %) dan merupakan hasil rekayasa manusia (28,7 %)," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno dalam keterangannya di Jakarta, Senin, 22 Februari 2021.



Ilustrasi Covid-19



Dia menyarankan agar sosialisasi maupun edukasi terhadap masyarakat terkait COVID-19 masih penting untuk terus digencarkan. Adi menjelaskan, survei tersebut menanyakan kepada responden apakah COVID-19 nyata atau rekayasa (konspirasi) yang dibuat untuk tujuan tertentu. Hasilnya, menurut dia, sebanyak 56,7 % menilai COVID-19 adalah nyata, 20,3 % menganggap virus tersebut merupakan konspirasi, dan 23 % tidak menjawab.



Adi mengatakan, survei tersebut juga menanyakan kepada responden apakah COVID-19 terbentuk secara alami atau rekayasa buatan manusia untuk tujuan tertentu. "Sebanyak 48,9 % responden menilai COVID-19 terbentuk secara alami, 28,7 % buatan manusia, dan tidak menjawab sebesar 22,4 %," ujarnya.



Dia menjelaskan, temuan lain data survei tersebut menunjukkan bahwa kondisi ekonomi masyarakat saat ini masih relatif belum membaik dibanding 10 bulan yang lalu saat COVID-19 baru menyerang Indonesia. Menurut dia, sebanyak 44,2 % responden menilai kondisi ekonomi keluarga sama saja dibandingkan saat COVID-19 menyerang Indonesia pada bulan April 2020.



"Sebanyak 39,1 % menilai kondisi ekonomi keluarga lebih buruk, 13,9 % menganggap kondisinya lebih baik, dan 2,8 % tidak menjawab," katanya.



Kondisi itu, menurut dia, memicu kejenuhan masyarakat sehingga bersikap kurang peduli terhadap wabah COVID-19. Adi menjelaskan, ketika responden diminta memilih antara aktifitas ekonomi atau penanggulangan wabah, masyarakat terbelah. "Responden cenderung lebih memilih pembebasan aktifitas ekonomi walaupun berpotensi meningkatkan penyebaran COVID-19 yaitu sebesar 39,1 %, dan sebanyak 32,9 % responden memilih membatasi aktifitas ekonomi masyarakat demi mengurangi penyebaran virus corona," katanya.



Survei Parameter Politik Indonesia tersebut dilakukan pada 3-8 Februari 2021 dengan melibatkan 1.200 responden, diambil dengan menggunakan metode simple random sampling dari 6.000 data target yang telah dipilih secara random dari kerangka sampel.



Pengumpulan data dilakukan dengan metode telepolling menggunakan kuisioner yang dilakukan oleh surveyor terlatih. Margin of error survei sebesar ± 2,9 % pada tingkat kepercayaan 95 %. (Ant)