Iklan

Monetize your website traffic with yX Media
7 Nov 2020, November 07, 2020 WIB
Last Updated 2020-11-07T04:36:06Z
Ekonomi

Swalayan Ini Boikot Produk Prancis

Pekanbaru - Jaringan waralaba minimarket 212 Mart di Kota Pekanbaru, Riau, mulai memberlakukan boikot terhadap produk perusahaan Prancis, sebagai bentuk protes terhadap ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang telah menyakiti banyak umat Islam.



“Sebenarnya dengan boikot ini kita merugi karena barang tidak terjual. Namun hal ini dilakukan sebagai bentuk protes dan di barisan itu kita berdiri sekarang,” kata Manajer 212 Mart, Elva Susianti Kamis 5 Nopember lalu.


Ia mengatakan waralaba 212 Mart ada tiga di Kota Pekanbaru dan mulai berhenti menjual maupun memesan produk perusahaan Prancis sejak awal pekan ini. Seperti di swalayan 212 Mart di daerah Rumbai, pengelolanya memisahkan semua produk yang diboikot ke rak khusus. Berbagai produk tersebut mulai dari susu formula, makanan, air mineral, hingga kosmetik dan produk kecantikan wajah.


Semua produk itu disatukan di sebuah rak, kemudian ditutup dengan plastik dan diberi tanda bertuliskan “Boikot Produk Prancis”.


Ia mengatakan sebenarnya produk Prancis yang diboikot selama ini menjadi pilihan konsumen karena harganya terjangkau. Namun sebagai bentuk protes, maka kepentingan profit harus ditepikan.


“Kita juga sudah berhenti memesan produk air mineral terkenal yang sahamnya dari perusahaan Prancis. Pihak sales produk mengerti dengan keputusan ini,” ujarnya.


Menurut dia, pelanggan 212 Mart yang mayoritas Muslim justru mendukung keputusan boikot. Mereka beralih ke produk lainnya. Bahkan, aksi boikot ini dinilainya membuat konsumen beralih ke produk buatan lokal Riau.



“Yang biasanya konsumen beli produk air mineral perusahaan Prancis sekarang berhenti beli. Mereka tidak protes, mungkin mereka sadar keputusan boikot ini benar adanya. Malah mereka beralih ke air mineral Ashiil buatan Riau,” ujarnya.


Ia mengatakan belum tahu sampai kapan pemboikotan menjual produk Prancis akan berakhir.


Aksi boikot massal produk Prancis itu berawal ketika seorang guru tewas. Ia dipenggal karena menunjukkan karikatur Nabi Muhammad SAW di kelasnya. Usai peristiwa mengenaskan itu, Presiden Macron mengumumkan tidak akan mencopot karikatur yang dibuat oleh salah satu majalah satir di Prancis itu.(ant)