Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget




 

Tradisi Perempuan Paling Mengerikan Di Dunia

 


Di berbagai belahan dunia masing-masing memiliki tradisi yang harus dijalani oleh kaum hawa. Entah itu tradisi pernikahan, tradisi berduka, atau tradisi standard kecantikan. Namun tak sedikit tradisi tersebut tampak mengerikan karena harus melalui proses yang menyakitkan dan tidak wajar. Meski mengerikan dan menuai kritik, tapi masih ada beberapa suku yang masih menjalani tradisinya karena masyarakat masih berpegang teguh pada adat.


1. Memotong Jari Tangan


Indonesia memiliki beragam suku bangsa dan budaya yang beragam seperti tarian daerah, pakaian adat,  rumah adat, dan tradisi yang kental. Namun tahukah anda bahwa ada sebuah tradisi yang bikin merinding seperti yang dijalani oleh suku dani di papua barat. Dinamakan ritual iki palek, di saat kerabat dekat, suami atau anak meninggal maka oleh ibu atau wanita tertua di suku dani akan memotong ruas jari mereka. Biasanya orang-orang di sana menggunakan semacam kapak atau pisau tradisional. Nggak hanya memakai alat, bahkan kadang ada juga yang memakai gigi alias digigit sampai putus. Pemotongan jari dimaksudkan sebagai lambang kehilangan yang amat sangat.


Jangan tanya soal rasa sakit, suku dani tahu betul bahwa rasanya sangat menyakitkan tapi mereka mau melakukannya atas nama kesetiaan


Rasa sakitnya diumpamakan seperti menderitanya hati ketika saudara meninggal. Makanya, mereka pun seolah tak masalah melakukan ritual menyakitkan ini. Di samping itu, kemauan memutuskan salah satu ruas jari juga jadi bukti kesetiaan mereka terhadap keluarga.


Ritual ini telah dilarang oleh pemerintah, namun dipercaya sebagian orang masih melakukan tradisi iki palek hingga saat ini.


2.   Gigi Dipahat Agar Runcing


Masih dari negara indonesia di Kepulauan Mentawai lepas pantai Barat Sumatera. Meskipun hampir setiap orang selalu ingin terlihat cantik dan menarik, faktor untuk terlihat cantik dan menarik sangatlah relatif bagi setiap orang, komunitas masyarakat dan suatu daerah. Namun bagi perempuan suku mentawai standard kecantikan perempuan adalah dengan meruncingkan gigi.


Tidak tanggung-tanggung mereka meruncingkan gigi dengan cara dipahat menggunakan alat yang terbuat dari besi atau kayu yang sudah diasah hingga tajam tanpa menggunakan bius. Proses peruncingan satu gigi biasanya dilakukan selama 30 menit tanpa istirahat. Dan diberikan waktu jeda di tiap satu gigi yang sudah diruncingkan agar bisa istirahat.


Masyarakat mentawai percaya bahwa wanita yang beranjak dewasa akan terlihat lebih cantik jika memiliki gigi yang runcing. Tradisi ini juga dilakukan dengan kepercayaan agar jiwa mereka dipenuhi kebahagiaan dan kedamaian jiwa.


3. Menyetrika Payudara


Kamerun merupakan salah satu negara tertinggal yang memiliki presentasi kasus pelecehan seksual tertinggi di dunia. Untuk menghindari anak perempuannya dari pelecehan seksual, tak jarang para gadis remaja di kamerun  afrika tengah harus menjalani tradisi setrika payudara.


Hal ini dilakukan oleh para ibu kepada anaknya, sebagai upaya untuk melindungi anak mereka dari perhatian yang tidak diinginkan, pelecehan seksual, bahkan pemerkosaan . Praktik setrika payudara dilakukan ketika anak perempuan menunjukkan tanda-tanda pubertas. Setrika payudara ini dilakukan menggunakan spatula, batu, atau benda tumpul apapun yang telah dipanaskan di bara api. Setelah panas, si ibu bakal menekan benda tersebut di atas payudara anak gadisnya sampai bentuknya rata. Selanjutnya, si ibu bakal membalut payudara anak gadisnya dengan perban sekuat mungkin. Hal ini dilakukan agar payudara tidak tumbuh kembali.


4. Calon Pengantin Wanita Wanita Diarak dan Dipukuli Sebelum Menikah


Momen pernikahan seharusnya adalah momen yang membahagiakan di dalam hidup karena akan menjalani hidup baru bersama pasangan. Tapi apa jadinya sebelum menikah, calon mempelai wanita harus menjalani proses yang menyakitkan dengan diarak keliling kampung dan dipukuli agar dianggap layak menikah?


Suku uaupes di brasil harus mengalami tradisi mengerikan tersebut jika ingin menikah. Mereka diarak keliling kampung tanpa selembar benanang pun, alias telanjang atau terkadang para wanita yang akan dinikahkan ini dipakaikan baju adat yang menutupi beberapa anggota tubuh saja. Bukan hanya itu saja, para wanita suku yang akan dinikahkan ini akan diarak keliling kampung dan dipukuli hingga pingsan agar dianggap layak menikah. Jika gadis itu bangun dan tetap sadar, maka ia dianggap kuat dan feminim, dengan demikian mereka dianggap sudah siap menikah karena nantinya dapat melewati cobaan ketika berumah tangga dan dapat merawat  suami serta anaknya kelak.



Penulis: Augesti Geovani