gtag('config', 'UA-171687211-1'); Tak Banyak Yang Tahu, Ternyata Ada Wisata Sejarah Militer Jepang di Sabang -->

Iklan Semua Halaman


.

Tak Banyak Yang Tahu, Ternyata Ada Wisata Sejarah Militer Jepang di Sabang

Tuesday, September 15, 2020



Lautan Sabang merupakan pintu masuk untuk ke Selat malaka. Sesekali sebuah kapal tanker atau kapal yang berisi kontainer lewat dari kejauhan. Sejarah Sabang yang tak pernah terlepas dari sejarah kolonial Belanda, Portugis, hingga Jepang di Perang Dunia 2.

Dilansir dari kompas.com, saat dikuasi Jepang di akhir Perang Dunia 2, yang lewat dari laut ini adalah kapal-kapal perang Amerika dan sekutunya. Meriam milik Jepang yang berjenis coastal, menembakkan peluru ke arah kapal-kapal mereka agar tak memasuki Wilayah Selat Malaka sebagai pintu masuk ke kawasan Asia Tenggara.

Pada tanggal 12 Maret 1942 pada pukul 00.00, dengan menggunakan sandi “Operation T”, satu Batalyon Divisi Darat Kobayashi Kekaisaran Jepang, mendarat di Sabang.

Dalam kurun waktu 1942-1945, Sabang menjadi sebuah pangkalan angkatan laut Jepang yang besar untuk menghadapi sekutu.

Jadi, tak heran jika Pulau Weh banyak peninggalan dari sejarah militer Jepang, yakni bunker-bunker yang sebagian masih bisa dikunjungi, benteng, bahkan bekas lokasi pembantaian yang mengenaskan.

Di deretan pantai itu, tepatnya disebelah kiri terdapat Pelabuhan Sabang, yang berisikan bekas ruang meriam dan amunisi. Tapi beberapa meriam sudah dipindahkan ke halaman Sabang Fair yang berada di pinggir pantai yang menghadap ke mulut Teluk Sabang, di sisi utara dari Pulau Weh.

Selain berwisata sejarah, menikmati keindahan pantai dari atas tebing di sekitar bunker meriam dengan duduk setengah lingkaran yang terbuat dari semen, juga bisa menjadi wahana pilihan.

Tak hanya itu, ada lagi peninggalan sejarah yang menyedihkan dari benteng Anoi Itam kembali ke Sabang Fair lalu ke arah selatan melawati jalan Cut Nyak Dhien.

Dengan menyusuri jalanan yang mulus, sekitar 10 kilometer di sebelah kanan terdapat tugu prasasti. Nama tugunya adalah Pemancungan Batee Shoek yang memiliki tinggi sekitar 3 meter yang terlihat tidak terawat.

Tugu ini dibangun untuk mengenang pembantaian orang-orang Sabang oleh tentara Jepang pada 1994. Mereka di hukum karena dianggap sebagai mata-mata dari sekutu yang membahayakan Jepang. Terdapat 21 nama yang tercantut di prasasti di sebelah tugu ini adalah para korban yang dikubur dibawah lubang tugu ini. Tak heran jika banyak yang menganggap lokasi sejarah ini cukup misterius.

Selain tiga peninggalan dari sejarah militer Jepang, ternyata banyak jejak-jejak penduduk Jepang. di Sabang yang bisa dijadikan wisata saat berkunjung ke Sabang. (Febrina Azura)