gtag('config', 'UA-171687211-1'); Melestarikan Budaya dengan Menganyam Purun -->

Iklan Semua Halaman


.

Melestarikan Budaya dengan Menganyam Purun

Monday, August 31, 2020


Menganyam tikar Purun merupakan salah satu tradisi masyarakat Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara sejak tahun 1958.

 

Bahan utama tikar purun ini berasal dari tumbuhan liar yang memiliki bahasa latin eleocharis dulcis, dimana para pegrajin harus mendapatkannya di lahan gambut yang tumbuh secara liar. Tanaman ini tumbuh di dalam lumpur dan rawa-rawa.

 

Untuk proses pembuatan tikar purun,  para pengrajin harus mengambil tanaman purun yang sudah tua dan tinggi. Setelah dicabut purun harus dibawa dengan hati-hati agar tidak patah, sehingga saat di proses purun harus utuh dan tidak rusak.

 

Sebelum memasuki proses penjemuran, terlebih dahulu bagian ujungnya di potong untuk dibersihkan. Kemudian purun dijemur di bawah sinar matahari selama 3 hari, serta harus terikat agar tidak berserakan.

 

Setelah purun kering, biasanya para pengrajin melindaskan purun di jalan Raya. Namun, karena pertimbangan keselamatan, kini para pengrajin tikar purun lebih memilih menghancurkan purun dengan menggunakan alat tumbuk purun di rumah mereka.

 

Terkait dengan tingkat kesulitan pembuatannya Salma mengaku selain harganya bervariasi,  pengayaman purun memakan waktu 5 sampai 7 hari, “kesulitannya si nggak ada, tapi pengayamannya memakan waktu hingga 5 sampai 7 hari, dan untuk penjualan, tikar purun ini kami jual dari harga Rp 80.000 sampai Rp 13.000 per tikarnya”, tutur Salma.

 

Para pengerajin tikar purun ini biasanya menjual langsung ke toko oleh-oleh yang berada di Kabupaten Serdang Bedagai.

 

Pembuatan tikar purun ini perlu dilestarikan, bahkan perlu diadakan berbagai pelatihan mengenai pola anyaman purun, agar hasilnya bisa lebih bervariasi.

 

Dengan adanya para pengrajin tikar purun ini bisa membantu masyarakat mendapat penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Terlebih saat pandemi Covid-19 melanda, keberadaan tikar purun saat ini menjadi anadalan masyarakat Sergei Bedagai untuk mencari rezeki. (Febrina Azura)