Seniman Ciamis Ciptakan Alat Musik Baru Kolotik

Iklan Semua Halaman

.

Seniman Ciamis Ciptakan Alat Musik Baru Kolotik

Selasa, 28 Juli 2020

Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, kini memiliki satu alat musik tradisional baru. Namanya Kolotik singkatan dari Kolotok Leutik (kecil), berasal dari Bojongsalawe, Kecamatan Cimaragas. Dengan lahirnya alat musik ini menambah kekayaan budaya Ciamis.
Kolotik awalnya dibuat oleh 2 seniman dan budayawan di Bojongsalawe, Bah Latif dan Bah Nani. Asalnya dibuat sebagai oleh-oleh atau merchandise dari Situs Budaya Bojongsalawe. Terbuat dari tempurung(batok) kelapa.

Sekadar diketahui, kolotok sebuah benda bunyi yang terbuat dari kayu yang biasa digantungkan pada ternak kerbau atau sapi. Sedangkan Kolotik yang kini menjadi alat musik tradisional Ciamis, versi ukuran kecil dari Kolotok.

Sama seperti alat musik lain, Kolotik ini memiliki nada. Tapi 1 kolotik hanya menghasilkan 1 nada suara, sama seperti angklung. Sehingga untuk memainkannya harus dilakukan secara berkelompok.

Ada dua versi nada yang diciptakan, pertama do re mi fa sol la si do (diatonik). Yang kedua versi da mi na ti la (pentatonis) yang biasa digunakan untuk kesenian sunda.

"Awalnya Kolotik ini hanya sebuah merchandise atau cindera mata dari Situs Bojongsalawe. Kemudian kami beri tantangan meminta supaya memiliki nada. Ternyata mereka bisa membuktikannya," ujar Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disbudpora) Ciamis Erwan Darmawan, Selasa (28/7/2020).

Disbudpora mulai mengenalkan alat musik tradisional Kolotik ini, dengan mementaskannya di beberapa even kegiatan pemerintahan. Kemudian mengintensifkan latihan dan sosialisasi supaya banyak orang bisa memainkan alat musik yang digoyangkan ini.

"Ke depan kami akan berkoordinasi dengan sekolah dan masyarakat untuk mengenalkan Kolotik ini. Hanya memang untuk sekolah sekarang belum karena pembelajaran belum efektif tatap muka langsung," katanya.

Disbudpora juga bakal mendatangkan pelatih angklung yang kompeten. Karena alat musik ini cara memainkan dan nadanya sama dengan angklung, hanya saja suara yang dihasilkan berbeda.

"Kami bangga kepada para seniman Ciamis, terutama yang telah berkreasi menciptakan alat musik ini, tanpa pamrih," katanya.

Tak menutup kemungkinan, Kolotik ini akan dibuat dalam jumlah banyak. Karena untuk bahan bakunya tempurung atau batok kelapa tersedia cukup banyak di Ciamis. Juga akan kerjasama dengan pihak pertanian maupun industri.

"Semoga alat musik dari Ciamis ini bisa dikenal luas di tahan air. Kami juga akan menempuh hak paten untuk alat musik ini," pungkasnya. Seperti dilansir dari detikcom.