Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget




 

Putusan PTUN Menangkan Mantan Komisioner KPU jadi Preseden Buruk Bagi Istana


Anggota Komisi II DPR RI Fraksi PAN Guspardi Gaus menilai putusan Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta memenangkan gugatan Evi Novida Ginting bisa menjadi preseden buruk bagi pihak Istana. Sebab, putusan tersebut menunjukkan bahwa ada kelemahan di mata hukum yang ditunjukkan dari kebijakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memberhentikan tidak hormat Evi Novida Ginting sebagai Komisioner KPU.

“Sebagai negara hukum jelas bahwa putusan PTUN menganulir dan membatalkan keputusan presiden. Oleh karena itu tentu ini menjadi preseden tidak baik. Sepatutnya presiden sebelum memgambil kebijakan dan memutuskan segala sesuatu seharusnya sangat hati-hati,” kata Guspardi kepada wartawan, Rabu (29/7).

Guspardi juga menyoroti tim kepresidenan yang dinilai lemah membantu Jokowi dalam persoalan hukum. Sehingga, kebijakan dan atau keputusan Presiden bisa menjadi celah bagi siapa pun untuk menggugat.

“Presiden dalam mengambil kebijakan dan keputusan harus mempelajari secara seksama dalam memutuskan apa pun. Sebab sekarang ini zamannya transparan, siapa pun berhak melakukan upaya hukum,” ujarnya.

Ke depan, politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi. Namun di sisi lain, dia mengapresiasi keputusan PTUN yang tidak pandang bulu dalam penegakan supremasi hukum.

“Keputusan Presiden saja bisa dibatalkan oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN). Ini bagus dari segi penegakan hukum. Jika ada kebijakan yang berlawananan atau bertentangan dengan hukum maka setiap orang berhak melakukan upaya hukum,” pungkasnya.

Sebelumnya Evi Novida Ginting diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan sebagai anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI periode 2017-2020. Hal itu tertuang di Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 34/P Tahun 2020 tetanggal 23 Maret 2020 yang ditanda tangani Presiden Joko Widodo. Keppres itu merupakan tindak lanjut putusan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) yang memberhentikan secara tidak hormat Evi Novida Ginting sebagai Komisioner KPU.

Evi mengajukan upaya adminstratif keberatan kepada Presiden Republik Indonesia. Dan mengajukan gugatan pembatalan pemecatan dirinya sebagai anggota Komisioner KPU RI periode 2017-2022 ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta. Seperti dilansir dari jawapos.com.