Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget




 

Presiden Korea Utara Marah-marah ke Pejabat Korut Soal Pembangunan RS


Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-Un marah-marah ke sejumlah pejabat terkait proyek pembangunan rumah sakit (RS). Hal ini disebut mengindikasikan bahwa Korut berjuang mengamankan pasokan di tengah sanksi Amerika Serikat (AS) dan lockdown virus Corona (COVID-19).
Seperti dilansir Associated Press, Senin (20/7/2020), laporan kantor berita Korut, Korean Central News Agency (KCNA), menyebut insiden itu terjadi saat Kim Jong-Un mengunjungi sebuah proyek pembangunan di Pyongyang. Kim Jong-Un dilaporkan marah karena masalah yang tidak disebut lebih lanjut.

Dilaporkan KCNA bahwa dalam kunjungan itu, Kim Jong-Un menyesalkan bahwa proyek ambisiusnya dalam membangun RS baru dilakukan 'dalam cara yang ceroboh' dan tanpa anggaran yang pantas.

KCNA juga menyebut bahwa Kim Jong-Un memerintahkan agar semua pejabat yang bertanggung jawab dalam proyek itu agar segera diganti.

Laporan KCNA menyebut Kim Jong-Un menuduh para manajer konstruksi melakukan 'penyimpangan serius' dari kebijakan Partai Buruh Korea yang berkuasa di Korut. Penyimpangan itu disebut terjadi terkait pasokan material dan peralatan dengan 'membebani rakyat dengan cara mendorong segala bentuk bantuan', yang mengindikasikan banyaknya komplain dari orang-orang yang dikerahkan untuk proyek pembangunan itu.

KCNA tidak menyebut lebih lanjut soal kapan Kim Jong-Un mengunjungi proyek pembangunan itu dan tidak menyebut apakah Kim Jong-Un memberikan komentar soal kebuntuan diplomasi nuklir dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump.

Saat mengumumkan rencana pembangunan RS pada Maret lalu, Kim Jong-Un menyampaikan pengakuan langka bahwa negaranya tidak memiliki fasilitas medis modern dan menyerukan peningkatan segera dalam sistem layanan kesehatan Korut.

Namun Korut belum secara langsung mengaitkan proyek pembangunan RS dengan pandemi Corona. Korut bersikeras mengklaim bahwa tidak ada satupun kasus Corona di wilayahnya -- klaim yang diragukan oleh banyak pakar luar negeri. Seperti dikutip dari detikcom.