Penyiksaan Anak di Duren Sawit, Ini Tanggapan Aktivis Anak

Iklan Semua Halaman

.

Penyiksaan Anak di Duren Sawit, Ini Tanggapan Aktivis Anak

Jumat, 24 Juli 2020

Telah beredar video viral di sosial media yang memperlihatkan seorang ayah AM (40 tahun) selaku pria yang menganiaya anak ka dungnya di Duren Sawit, Jakarta Timur.

Dalam video tersebut, pria telanjang dada yang diduga sebagai ayah sedang memegang sendal untuk bersiap memukul seorang anak perempuan yang ada di dalam rumah. Terdengar isak tangis dari sang anak perempuan.

Sempat terlihat seorang perempuan yang menggunakan sarung nampak menghalangi pria tersebut untuk memukul. Walau tidak jadi memukul, warga yang merekam video tersebut terdengar sangat marah. Selain itu, terlihat kaki kanan sang anak berdarah dan menetes di lantai.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesi, Seto Mulyadi mengatakan peristiwa penyiksaan anak yang banyak terjadi selama pandemi. Salah satu penyebabnya orang tua stres lantaran permasalahan ekonomi yang disebabkan pandemi.

"Penyiksaan anak banyak yang terjadi di pandemi ini. Orang tua stres sebagai permasalahan ekonomi dan sebagainya akhirnya sasaran paling empuk adalah anak-anak," kata Seto pada Kamis (23/7).

Artinya sambung dia masyarakat perlu sadar akan pentingnya pemberdayaan warga dalam melindungi anak. Kejadian ini yang nanti ia sampaikan kepada Gurbenur DKI Jakarta dalam acara virtualnya. Ia meminta di DKI Jakarta akan diberlakukan penambahan satu seksi dalam wilayah Rukun Tetangga (RT) yakni, seksi perlindungan anak.

"Seperti di Tangerang Selatan, Kabupaten Banyuwangi, dan Bengkulu Utara seluruh RTnya sudah dilengkapi tambah satu seksi lagi yaitu seksi perlindungan anak. Jadi itu juga merupakan langkah preventif," kata dia.

Menurutnya sekarang bukan lagi zamannya kekerasan terhadap anak. Kekerasan pada anak harus dengan cara yang lebih tepat yaitu mencintai anak dengan penuh kasih sayang. Kejadian ini kata Seto masih ada kaitan dengan paradigma keliru dalam mendidik anak seperti zaman dahulu.

"Justru ini adalah bawaan paradigma keliru mendidik anak jaman dulu, jaman kolonial. Bahwa mendidik harus dengan kekerasan. Bahkan bukanya hanya orang tua bahkan guru pun juga harus dengan kekerasan. Seolah itu adalah cara mendidik yang benar," ujar dia.

Seto juga menyebut umumnya pelaku tindakan kekerasan terhadap anak dahulunya merupakan korban kekerasan dari orang tuanya. Ia memperingati agar tidak terjad secara terus-menerus. Tak hanya itu, Seto juga akan apresiasi terhadap Polres Jakarta Timur yang langsung tanggap terhadap aksi penyiksaan anak ini. Seperti dilansir dari republika.co.id.