Peneliti Temukan Ruam Mulut di Pasien Corona Sebagai Gejala Baru

Iklan Semua Halaman

.

Peneliti Temukan Ruam Mulut di Pasien Corona Sebagai Gejala Baru

Kamis, 16 Juli 2020

Sejauh ini beberapa gejala COVID-19 yang umum terjadi adalah demam, batuk, sesak napas, hilang indra penciuman dan perasa. Tetapi, baru-baru ini terdapat sebuah studi yang menyatakan bahwa ruam mulut juga bisa menjadi gejala COVID-19.
Dikutip dari Medical Xpress, dokter di Spanyol melaporkan bahwa pada beberapa kasus pasien Corona mengalami gejala ruam berupa bintik-bintik kemerahan di bagian dalam mulutnya.

Ruam jenis ini secara klinis lebih dikenal sebagai enanthem. Menurut ahli kulit di Amerika Serikat (AS), sudah tidak mengherankan lagi kalau virus Corona yang berada di selaput lendir bisa menyebabkan ruam di mulut.

"Enanthem adalah ruam kecil di selaput lendir," kata Dr Michele Green, yang berpraktik di Lenox Hill Hospital di New York, AS.

"Ini sangat umum pada pasien dengan infeksi virus, seperti cacar air dan penyakit tangan, kaki dan mulut. Ini adalah karakteristik dari banyak virus yang mempengaruhi selaput lendir," jelasnya.

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Spanyol ini telah diterbitkan di jurnal Jama Dermatology pada 15 Juli 2020. Studi tersebut dipimpin oleh Dr Juan Jimenez-Cauhe dari Rumah Sakit di Universitas Ramon y Cajal, Madrid.

Mereka melakukan penelitian terhadap 21 pasien Corona yang dirawat pada awal April lalu. Hasilnya, enam pasien memiliki ruam di bagian mulut.

Disebutkan, usia pasien yang terkena berkisar antara 40-69 tahun dan empat dari enam pasien tersebut adalah perempuan.

Menurut para peneliti, ruam ini bisa terjadi mulai dari dua hari sebelum gejala COVID-19 muncul hingga 24 hari setelahnya, dengan waktu rata-rata sekitar 12 hari setelah timbulnya gejala.

Dalam beberapa kasus, ruam mulut tampaknya bukanlah efek yang dihasilkan dari obat-obatan yang diminum pasien. Sehingga ini semakin memperkuat anggapan kalau ruam mulut adalah salah satu gejala COVID-19.

Namun, para peneliti belum bisa memastikan sejauh mana gejala ini akan menyebar. "Ini karena masalah keamanan, banyak pasien suspek atau konfirmasi COVID-19 tidak diperiksa rongga mulutnya," catat kelompok Jimenez-Cauhe. Seperti dilansir dari detikcom.