Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Di Maluku, Pelajar Menyeberangi Sungai saat Berangkat Sekolah


Seorang guru honorer di Desa Tobo, Pulau Seram Bagian Timur di Provinsi Maluku mengunggah video perjuangan para siswanya menyeberangi sungai di pesisir pantai dengan arus deras menuju tempat menimba ilmu.

Dalam video itu, menampakkan 4 siswi SMPN 16 Seram Bagian Timur saling membantu untuk melewati arus setelah menunggu arus reda selama tiga jam, meskipun begitu salah satu di antara mereka masih ada yang terpeleset.
"Setiap hari kami dari Desa Tobo harus menyeberangi arus deras tersebut menuju Desa Batuasa untuk ke sekolah, perjalanan ditempuh 3 kilometer dan menghabiskan waktu 1 jam," ungkap Werto Wailissahalong, sang guru honorer, kepada kumparan, (18/7).
Tidak ada pilihan lain, mereka harus menggunakan jalan tersebut agar sampai ke sekolah. Semangat yang tinggi untuk meraih cita-cita tidak menciutkan keberanian, bahkan dengan risiko yang bisa mencelakakan keselamatan mereka.
Namun hal itu yang selalu menjadi kekhawatiran Werto, karena tahun 2019 lalu, dia menjadi korban yang selamat akibat terbawa arus sungai Ulil di pesisir tersebut.

Sehingga saat pekan ini, Kamis (16/7), Werto harus menelan kenyataan pahit kesekian kalinya dengan menyeberangi sungai demi mengajar anak didiknya setelah beberapa pekan belajar di rumah akibat pandemi.

"Saya khawatir dengan keselamatan anak-anak, terlebih saya masih ada trauma ketika pernah terbawa arus, tapi justru mereka yang menyemangati saya. Mereka mengatakan, 'tidak apa-apa bu, kami berani bersama-sama melewati sungai ini,'" ungkapnya.
Kondisi jalan yang memprihatinkan, bukan hambatan satu-satunya bagi para guru dan murid di desa Pulau Seram. Jaringan internet untuk menunjang pembelajaran juga tidak bisa mereka akses. 
Werto mengaku, selama periode belajar di rumah, dirinya tidak bisa menggunakan internet sama sekali untuk sekadar membagi soal kepada para muridnya.
"Karena kan kalau mau dapat sinyal internet harus turun ke pantai dulu, sinyalnya tidak sampai ke rumah penduduk," tambahnya.

Selain persoalan sinyal, Werto juga tidak menjamin semua anak didiknya bisa mengakses soal-soal dan materi pembelajaran, karena tidak semua anak memiliki gadget.
"Kalau sudah turun ke pantai, yang mau diberi soal dan materi juga belum tentu punya handphone yang mendukung," ujarnya.

Werto sendiri sejak lulus dari perguruan tinggi, tidak ingin meninggalkan desanya, bersama dengan lima guru honorer lain, mereka mengabdi untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak anak di Desa mereka masing-masing.
"Saya tidak ingin meninggalkan anak-anak, karena saya sebagai anak daerah dan sadar daerah saya ini terpencil, makanya harus kita yang tetap tinggal. Kalau bukan kita sendiri ya siapa lagi," ungkapnya. 
Guru honorer itu juga menuturkan, wajah pendidikan Indonesia bagian timur ini harus lebih mendapat perhatian dari pemerintah. Kepada kumparan, Werto mengatakan jika dia menggantungkan harapan kepada Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, agar dapat membuat kebijakan yang sesuai dengan situasi nyata desa mereka.

"Pak Menteri, kalau belajar di rumah itu butuh gadget dan internet, sedangkan keluarga dengan ekonomi rendah di sini tidak mampu membeli gadget dan sinyal tidak terjangkau daerah penduduk kami," pungkasnya. Seperti dilansir dari kumparan.com.