Sejak Dirumahkan, Manajer Bar Jualan Cocktail

Iklan Semua Halaman


.

Sejak Dirumahkan, Manajer Bar Jualan Cocktail

Minggu, 21 Juni 2020

Dirumahkan sementara dari pekerjaan akibat pandemic Covid-19 sejak April lalu, tak membuat Pandu Krisna Wardana, 31, berpangku tangan. Manajer di salah satu hotel besar di Nusa Dua ini pun banting setir bersama rekannya Maha Wisnu Sathya Dharma Swarupa, 31, yang kebetulan seorang pekerja migran di salah satu cruise ternama, untuk menjual cocktail. Menariknya, cocktail yang dijual via online ini pun berbahan dasar Arak Bali asal Karangasem.

Di perumahan yang berlokasi di wilayah Desa Baktiseraga, Kecamatan Buleleng inilah Pandu dan rekannya Wisnu, memproduksi cocktail yang dilabeli ABAR. Nama ABAR dipilih agar penikmat cocktail yang biasa nongkrong di bar, tetap bisa menikmati cocktail ala bar dengan aman di rumah masing-masing di tengah pandemic Covid-19.

Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Pandu menceritakan, jika ide awal memproduksi cocktail berbahan Arak Bali ini, timbul secara tidak sengaja. Awalnya ia dan rekannya, Wisnu, sedang membuat acara kumpul bareng, sembari menikmati mojito. Hanya saja, mojito yang dikonsumsinya tak senikmat yang ia bayangkan. Rasanya tidak seperti cocktail yang ada di bar-bar pada umumnya.

Padahal, pangsa pasar cocktail di Buleleng, sebut Pandu, sangat terbuka luas. Kendatipun sasarannya hanya di kalangan orang dewasa saja. Namun, peminatnya diakuinya selalu konsisten sepanjang masa dan tidak mengenal musim.

“Dari sanalah muncul ide kami untuk membuat cocktail yang berkualitas dengan bahan-bahan premium, namun dengan harga yang terjangkau,” ujar Pandu didampingi rekannya, Wisnu, akhir pekan kemarin.

Bersama rekannya, Pandu lantas mendatangi sejumlah perajin Arak Bali di wilayah Karangasem. Demi mendapat Arak yang berkualitas untuk bahan dasar cocktail, mereka mengamati proses pembuatannya secara detail. Standarnya, Arak yang dibuat harus secara tradisional dengan tahapan yang higienis.

“Kami pantang mencari Arak yang disuling dengan bahan bakar dari ban. Karena akan memengaruhi rasa, bisa baunya hangus. Kami cari yang bahan bakarnya kayu api, kemudian pipanya pakai bambu tidak pakai pipa plastik atau besi. Karena berpengaruh terhadap rasa,” imbuh Restaurant &  Bar Manager Hotel besar di area ITDC Nusa Dua ini.

Usaha kerasnya menjelajah perajin Arak pun akhirnya berbuah manis. Hingga akhirnya ia mendapatkan perajin Arak yang sesuai standar. Bahkan, Arak yang diproduksi perajin di Karangasem tersebut, memiliki cita rasa yang konsisten.

“Perajinnya punya kebun Ental sendiri. Kami lihat pohonnya langsung. Prosesnya, pembuatannya juga. Akhirnya bisa memeroleh Arak sesuai keinginan untuk bahan cocktail,” bebernya.

Hal itupun dibenarkan rekannya, Wisnu. Pria yang juga Pekerja Migran Indonesia (PMI) ini, mengaku memerlukan waktu hampir sebulan untuk bereksperimen agar menghasilkan cocktail dengan cita rasa konsisten, segar saat diminum, dan tak bikin eneg.

Empat varian akhirnya dihasilkan sejak akhir April itu, yakni Margarita, Mojito, Red Sangria, dan White Sangria. Dikatakan Wisnu, komposisi arak setiap botolnya  mencapai 60 persen. “Cocktail domainnya Arak Bali Karangasem. Bedanya kita infuse pakai bahan-bahan premium. Termasuk juga ada campuran sari buah, itu di mix,” terang Wisnu.

Saat ini, setiap minggunya ia membutuhkan 60 liter Arak Bali untuk diproduksi menjadi cocktail. Dalam sehari, Wisnu mampu memproduksi 50 hingga 100 botol cocktail berukuran 500 ml dengan kadar alkohol 25 persen.

Setiap hari, rata-rata cocktail yang terjual mencapai 20-30 botol. Harganya dibanderol Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu. Penjualannya bahkan tembus hingga ke Denpasar. Pengirmiannya dilakukan secara berkala.

 Wisnu menyebut Arak Bali sejatinya memiliki cita rasa yang berani bersaing, jika dimix dengan campuran yang pas. Namun, selama ini memang kerap dipandang sebelah mata, lantaran memiliki image yang kadang negatif di masyarakat akibat dikonsumsi tidak bertanggung jawab. Terlebih, dengan dilegalkannya Arak Bali, membuat minuman khas ini menjadi primadona dan mudah diperoleh.

Wisnu menyebut, pandemik Covid tak bisa disikapi dengan berpangku tangan, apalagi mengeluh. Sebab, jika berinovasi dan kreatif, maka banting stir dengan beragam jenis pekerjaan menjadi usaha paling realistis dilakukan, agar dapur tetap mengepul. Seperti dilansir dari jawapos.com.