gtag('config', 'UA-171687211-1'); Disperindag Bali Pantau Dua Pasar Tradisional Tekan Penyebaran Covid-19 -->

Iklan Semua Halaman


 

.

Disperindag Bali Pantau Dua Pasar Tradisional Tekan Penyebaran Covid-19

Saturday, June 20, 2020

Hasil evaluasi Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Provinsi Bali, menyebutkan pasar tradisional menjadi episentrum baru terjadinya penularan Covid-19. Khususnya yang disebabkan transmisi lokal.

Karena itu, untuk mencegahnya, Jumat (19/6), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali meninjau beberapa pasar tradisional di Kota Denpasar. Kegiatan itu dilakukan untuk memastikan protokol kesehatan dan pencegahan Covid-19 benar-benar diterapkan secara optimal dan disiplin. Mulai dari penggunaan masker, ketersediaan sarana mencuci tangan, serta penerapan jaga jarak fisik atau physical distancing.

Kegiatan tersebut dipimpin langsung  Kepala Disperindag Bali, I Wayan Jarta,  diawali dengan memantau Pasar Desa Adat Penatih. Di pasar ini, tim mendapati protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 telah diterapkan dengan cukup baik.

Di pintu masuk, pengelola pasar memasang satu bilik disinfektan yang wajib dilalui oleh pengunjung pasar. Kemudian, protokol ketat juga diterapkan bagi para pedagang seperti penggunaan masker, selop tangan, dan beberapa pedagang tampak melengkapi diri dengan face shield atau pelindung wajah.

Selain itu, pihak pengelola pasar juga menerapkan sistem pengamanan berlapis, dengan memasang pembatas plastik untuk membatasi interaksi secara langsung antara pedagang dan konsumen. Untuk memenuhi protokol jaga jarak, pedagang di pelataran dipisahkan oleh garis pembatas. Tidak hanya itu, pihak pengelola pasar secara berkelanjutan memutar rekaman yang berisikan edukasi terkait Covid -19 dan upaya pencegahannya.

Kepala Pasar Desa Adat Penatih Made Arta yang menerima Tim Disperindag Bali menjelaskan, sejak awal merebaknya kasus Covid-19 di Kota Denpasar, pihaknya telah menerapkan protokol yang ketat di areal pasar. 

Namun dia mengakui, tidak mudah untuk memberikan edukasi dan sosialisasi. Bahkan, di awal aturan yang disosialisasikan tersebut dipandang ribet dan membuat tidak nyaman. Tapi, lambat laun, para pedagang maupun pembeli mulai menjalankan protokol tersebut.

Dijelaskan, Pasar Desa Pakraman Penatih menampung 87 pedagang yang memulai aktivitasnya sejak pukul 05.00 wita. Di tengah pendemi Covid-19, pengelola pasar melakukan empat kali penyemperotan disinfektan setiap minggunya.

Situasi yang sama juga terpantau di Pasar Rakyat Kerta Waringin Sari Desa Angabaya. Pasar yang telah meraih predikat SNI ini menerapkan protokol ketat bagi pengunjung dan pedagang pasar.

Saat memasuki pasar, pengunjung wajib mengenakan masker dan melewati bilik disinfektan. Para pedagang juga menerapkan protokol yang ketat. Selain mengenakan masker dan selop tangan, sejumlah pedagang juga memakai face shield untuk perlindungan maksimal. Pengelola pasar juga mengatur jarak antarpedagang untuk memenuhi ketentuan jaga jarak fisik.

Senada dengan Made Arta, Kepala Pasar Rakyat Kerta Waringin Sari I Made Sukrasena menyebutkan, sosialisasi dan edukasi mengenai Covid-19 dan pencegahannya memerlukan proses yang tidak sebentar. Ini dicontohkan dengan keharusan untuk menggunakan masker. Semula keharusan itu dilihat sebagai suatu yang merepotkan. “Tapi lamban laun, mereka mulai terbiasa dan disiplin. Terlebih belakangan kasus transmisi lokal di areal pasar makin bertambah, mereka jadi lebih patuh,” urainya.

Kepala pasar di kedua pasar menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kunjungan dari Tim Disperindag Bali. Hal ini merupakan bentuk perhatian yang membuat mereka lebih bersemangat.

Sementara itu, Kepala Disperindag Bali, Wayan Jatra, menilai kedua pasar tradisional itu telah cukup optimal menerapkan protokol kesehatan dan pencegahan penyebaran Covid-19.

Menurutnya, upaya pemantauan yang dilakukan pihaknya ini merupakan bentuk dukungan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali yang tengah berupaya mengendalikan penyebaran wabah ini.

Di kesempatan itu, Jarta mengapresiasi upaya pengelola pasar tradisional yang ditinjaunya. Ini dicontohkan dengan penggunaan sekat plastik untuk membatasi pedagang dan pembeli. Menurutnya, cara seperti itu diharapkan bisa mencegah risiko penularan.

Dia juga berharap agar pihak pengelola pasar juga membentuk satgas khusus untuk mengawasi dan memastikan protokol pencegahan Covid-19 benar-benar diterapkan secara disiplin. “Bagi pedagang kalau sudah merasa sakit, jangan memaksakan diri untuk jualan. Sebaliknya, konsumen yang berbelanja juga harus mengindahkan protokol kesehatan, seperti menggunakan masker dan mencuci tangan pada tempat yang telah disediakan. Intinya, masuk bersih keluar juga harus bersih, sehingga aman untuk semua, saling menjaga,” imbuhnya. Seperti dilansir dari jawapos.com